History

1946

Kedatangan Pdt. Latuparisa

Latuparisa adalah nama salah satu marga yang ada di Ambon. Beliau adalah seorang pendeta yang digerakkan oleh Tuhan untuk ke Jawa Barat, khususnya kota Bandung. Ia datang bersama dengan istri dan satu orang anak perempuannya yang bernama Dorkas, yang pada saat itu berumur 20 tahun.

Cikal bakal lahirnya Gereja Rehoboth

Pdt. Latuparisa memulai sebuah persekutuan di jalan kabupaten no. 22. Rumah yang dipakai ini merupakan rumah sewaan yang pemiliknya adalah Tan Tjin Gie. Di rumah tersebut terdapat banyak ruangan yang tidak semuanya terpakai, sehingga dapat dimanfaatkan oleh Pdt. Latuparisa untuk mengadakan persekutuan. Dilihat dari susunan meja yang ada menurut Yahya Kiantono, ruangan tersebut pernah dipakai sebagai perkantoran dan pernah sebagai ruang kantor Bung Karno.
Pdt. Latuparisa merintis sebuah kebaktian keluarga setiap hari Minggu yang dihadiri oleh 10-12 keluarga yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Rehoboth, para keluarga tersebut yaitu: Kel. Tjia Pu Lie, Kel. Tjia Ho Lie, Kel. Bong Nyuk Fung, Tan Djiang Nio, Tan Tjoen Nio, Tan Giok Nio, Tan Tjiauw Tong, Tjie Wie Siong, Liem In Nio, Liem Nona Nio, Tjan No Nie, Tjio Tjay Nio, Tjio Tjiauw Nio, Tjiam Lian Nio, Liem Mery Nio, Song A Thay, Ie Gie Tjhiang, Ie Kwie Hong, Ong In Nio, Ong Tiat Nio, Kel. Tjia Tjin Hin, Kel. Tjia Koen Nio, Kel. Tan Gwan Nio

1947

Pengangkatan Gembala Sidang Pertama

Pada tanggal 27 Juli 1947, Pdt. Latuparisa dan Zr. Alt (seorang misionaris Amerika dari Assembly of God) menyerahkan penggembalaan ke Pdt. E. L. Corbet yang dibantu oleh dua rekan sepelayanannya yaitu Bapak Ie Gie Tjiang dan Bapak Song A Thay. Hal ini dikarenakan Pdt. Latuparisa terbeban untuk melanjutkan panggilannya sebagai penginjil ke Garut, Sumedang, dan Ciranjang.
Pdt. E. L. Corbet adalah seorang pendeta tentara KNIL dari Belanda yang bertugas di Batalyon Jaga II di Bandung sebagai serdadu kelas 1 penyerang Darat.

Berdirinya Rehoboth Kerk

Pdt. E. L. Corbet menamai jemaat di Jalan Dewi Sartika sebagai “De Pinkster Zending, Rehoboth Kerk”. Ia memilih nama “Rehoboth” karena mengacu pada Kejadian 26:22: “Ia pindah dari situ dan menggali sumur yang lain lagi, tetapi tentang sumur ini mereka tidak bertengkar. Sumur ini dinamainya Rehobot, …” dengan visi agar di kemudian hari Gereja Rehoboth dapat menjadi sumber air hidup di mana orang-orang di dalamnya tidak saling berbantah-bantahan, yang kemudian dituangkan dalam sebuah lagu “Mars Rehoboth”.

Pelayanan Paduan Suara & Kebaktian Anak-Anak Pertama

Pelayanan pertama yang dilakukan jemaat Rehoboth di masa-masa awal kemerdekaan bangsa Indonesia adalah pelayanan zangkoor (paduan suara). Paduan suara ini diberi nama De Pinksterzending Rehoboth Kerk Zangkoor dan mengalami perubahan menjadi paduan suara Sion. Pelayanan pertama kali dilakukan pada kebaktian tanggal 27 Juli 1947, bersamaan dengan dibentuknya Kebaktian Anak-anak (KAA) yang dipimpin oleh J.D. Jaguet yang berafiliasi dengan The Assemblies of God (Gereja Sidang Jemaat Allah)

Nubuatan Pendoa

Seorang ibu bernama Bong Nyuk Fung (Ma Bong) bernubuat bahwa antara tahun 1947 – 1950 kuasa Roh Kudus bekerja luar biasa di Bandung termasuk di tengah jemaat Gereja Rehoboth.
Pada kebaktian khusus kepenuhan Roh Kudus, seorang ibu bernubuat bahwa “gereja ini akan menjadi besar, besar, dan besar”

Perpecahan persekutuan Pinksterzending

Di akhir tahun 1947 terjadi perbedaan pendapat antara Corbert dengan Bletterman (rekan pelayanan Corbert yang menjadi pemimpin di GUPdI). Hal ini mengakibatkan persekutuan Pinksterzending terbagi dua kelompok: kelompok Bletterman keluar dan membentuk persekutuan Pinksterzending yang lain. Sementara kelompok Corbet merupakan penggabungan jemaat dari Pinksterzending dan jemaat yang telah dirintis oleh Latuparisa. Mereka beribadah di jl. Kabupaten 22 (yang kemudian menjadi jl. Dewi Sartika).

1950

Keseriusan Kebaktian Anak-Anak

“Ibu Tan Hiang Nio (Pdt. Yetty Tanubrata) memperhatikan lebih serius akan kebutuhan rohani anak-anak dalam
KAA.”

1951

Rehoboth Kerk berdiri sendiri

Rehoboth Kerk (Gereja Rehoboth) menyatakan diri keluar dari The Assemblies of God dan memilih untuk berdiri sendiri.

1953

Kelas Pengkaderan Pertama

Pdt. E. L. Corbet menerapkan peraturan yang cukup ketat yaitu para Pelayan Tuhan termasuk Guru Sekolah Minggu baru boleh melayani jika sudah dibaptis oleh Roh Kudus. Selain itu, setiap Guru Sekolah Minggu harus menggali Firman Tuhan sendiri karena belum ada buku pegangan untuk bercerita, namun Pdt. E. L. Corbet mengimbangi kekurangan itu dengan memimpin langsung kelas persiapan Guru Sekolah Minggu setiap hari Sabtu. Pada saat itulah, kelas pengkaderan Guru SM dan paduan suara yang pertama kali diadakan.

1960

Diangkatnya 7 Orang Tua-Tua Sidang

Setelah berdoa puasa meminta petunjuk Tuhan, Pdt. E. L. Corbet mengangkat 7 orang tua-tua sidang untuk menggembalakan sidang jemaat Gereja Rehoboth, yaitu:

  • Alm. Kwee Kian Leng (Pdt. Petrus Kiantono)
  • Alm. Tjia Tjin Hin
  • Alm. Tan Tjiauw Tong
  • Alm. Kwee Kian Ho (Yahya Kiantono)
  • Alm. Oey Tjoan Ho (Yusak Setiawan)
  • Tjee Tjiao Oei (Pdt. Daniel Maedjaja – kini di USA)
  • Alm. Tjoa Eng Lie (Pdt. Eddie Ishak Kertarahardja)

Istri E. L. Corbet dipanggil Pulang

Istri dari Pdt. E. L. Corbet, yang bernama A. B. Casse Corbet, dipanggil pulang ke Rumah Bapa di surga, dan dikebumikan di Pemakaman Pandu.

1961

Dibentuknya Yayasan Gereja Rehoboth

Setelah berpisah dari The Assemblies of God, Pdt. E. L. Corbet mendengar kabar bahwa persekutuan Kristen yang berstatus gereja mempunyai kedudukan yang lemah di pemerintahan, namun jika statusnya yayasan akan lebih kuat. Hal ini menyebabkan diubahnya Rehoboth Kerk atau Gereja Rehoboth menjadi Yayasan Gereja Rehoboth. Perubahan status ini terlaksana pada tanggal 31 Maret 1961 oleh notaris Lie Kwee Nio.

Pengangkatan Gembala Sidang Kedua

Pdt. E. L. Corbet memilih Pdt. Petrus Kiantono untuk meneruskan penggembalan Gereja Rehoboth dengan mengirimkan 2 buah surat: 1 surat untuk Pdt. Petrus Kiantono dan 1 lagi berupa surat tembusan untuk 7 orang tua-tua. Pdt. Petrus Kiantono menerima surat tersebut dan berdasarkan hasil perundingan 7 orang tua-tua, maka diputuskan Pdt. Daniel Maedjaja yang meneruskan penggembalaan. Oleh karena itu, pada bulan Oktober 1961, Pdt. Daniel Maedjaja resmi diangkat sebagai Gembala Sidang Gereja Rehoboth dan Pdt. Petrus Kiantono sebagai wakilnya.
Pdt. Daniel Maedjaja adalah seorang keturunan Tionghoa dari Makasar. Pada tahun 1950-an, ia datang ke Bandung untuk kuliah Teknik Elektro yang kemudian bergereja di Gereja Rehoboth. Ia memiliki istri bernama Tjee Tjiao Oei.

Pdt. E. L. Corbet pulang ke Belanda

Setelah meletakan jabatannya, beliau kembali ke negeri asalnya, Belanda. Di Belanda, orang yang sudah tua mendapatkan perawatan dan kehidupannya dijamin oleh negara, dan ini yang diterima oleh Pdt. E.L. Corbet ketika ia kembali ke Belanda.

1962

Dibentuk P3GR

Pada 6 Mei 1962 dikarenakan para pemuda/i Gereja Rehoboth merasa perlu untuk membuat suatu wadah bagi kaum muda, atas inisiatif Pdt. Daniel Maedjaja dan beberapa Guru Sekolah Minggu maka dibentuklah Perkumpulan Pemuda/i Gereja Rehoboth (P3GR) yang saat itu diadakan setiap hari Minggu pukul 16.00 WIB.
Pdt. Daniel Maedjaja memiliki hubungan yang erat dengan kaum muda yang saat itu hanya berjumlah 10-14 orang dan karena kedekatan serta bimbingannya kepada kaum muda, gereja menghasilkan Hamba-Hamba Tuhan yang setia di kemudian hari.

1963

Terbentuknya KKW

Pada 11 Juli 1963, para istri tua-tua dan ibu-ibu pelawat diundang ke perayaan HUT KKW Gereja Gerakan Pentakosta di Jalan Semar. Hal ini menginisiasi mereka untuk membentuk Kebaktian Kaum Wanita (KKW) dengan diketuai oleh Ibu Gembala Tjee Tjiao Oei. Kebaktian pertama diadakan pada 17 Juli 1963.

KKR Pertama

Bulan Oktober, dimulai Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) pertama kali dengan dilayani oleh Pdt. Lo Siauw Hwie. Dari KKR inilah jemaat tergugah untuk memiliki gedung gereja sendiri, sehingga mereka bersatu hati mengumpulkan dana untuk membeli gedung Gereja Rehoboth dengan mempersembahkan secara sukarela barang-barang berharga yang mereka miliki.

1964

Cikal Bakal Gereja Rehoboth Jemaat Imamanuel

Tahun 1964, para Guru Sekolah Minggu Gereja Rehoboth Jemaat Bandung mempunyai inisiatif untuk membuka Kebaktian Anak-Anak yang baru. Mereka melihat sebuah daerah yang mempunyai peluang untuk dibuat sebuah Kebaktian Anak-Anak yaitu di Gg. Tresna Asih. Akhirnya dibukalah sebuah gereja lokal yang baru dan dipimpin oleh Tan Tjiauw Tong (alm), Kho Tek San (Pdt. Yohanes Hadisusanto) serta Sie Swie Po. Gereja ini kemudian diresmikan pada tanggal 2 Agustus 1964 dan dinamakan Gereja Rehoboth Jemaat Immanuel (GRJI) yang berlokasi di Gg. Onong No. 29, Bandung.

Pembelian Gedung Gereja

Dari persembahan yang telah dikumpulkan dalam KKR di tahun sebelumnya, maka sebuah rumah di Jalan Dewi Sartika 36-38 lunas dibeli, yang kemudian menjadi milik Gereja Rehoboth. Hal ini disebabkan karena jemaat-jemaat mulai menyatukan hati dan mengumpulkan dana pembelian gedung gereja. Ada yang mengorbankan uang tunai, jam-jam mereka, perhiasan-perhiasan, bahkan cincin kawin.

Pengangkatan Gembala Sidang Ketiga

Pada bulan Oktober 1964, Pdt. Daniel Maedjaja menyerahkan kembali jabatan Gembala Sidang Gereja Rehoboth kepada Pdt. Petrus Kiantono dengan alasan ia sudah diterima di Perusahaan Caltex (perusahaan minyak internasional) di Rumbai Dumai, Riau, sebagai karyawan tingkat 5. Pdt. Petrus Kiantono meminta Pdt. Daniel Maedjaja berdoa untuk meyakinkan apakah itu yang Tuhan inginkan. Lalu Tuhan memberikan 3 kali kenaikan tingkat karyawan yaitu dari tingkat 5 menjadi tingkat 7, tingkat 7 menjadi tingkat 9, dan tingkat 9 menjadi tingkat tertinggi di perusahaan tersebut (yang biasanya dijabat oleh expat). Maka dari itu, Pdt. Petrus Kiantono merelakan kepergian Pdt. Daniel Maedjaja untuk bekerja.
Di Rumbai Dumai, Pdt. Daniel Maedjaja tetap menjadi Hamba Tuhan sambil bekerja. Setelah pensiun dari perusahaan tersebut, Pdt. Daniel Maedjaja dan keluarga pindah ke USA dan menjadi Warga Negara USA. Ia pun tetap melayani di Gereja Baptis di USA.

Saat itulah Pdt. Petrus Kiantono menjadi Gembala Sidang menggantikan Pdt. Daniel Maedjaja.
Pdt. Petrus Kiantono berasal dari daerah Kalimanggis, sekitar Cirebon, Jawa Barat. Ia datang ke Bandung dan membuka usaha perdagangan ikan. Pdt. Petrus Kiantono memiliki seorang istri yang bernama Tjoe Tan (biasa dipanggil Ibu Petrus Kiantono). Beliau mempunyai 3 orang anak Kwee Seng Hwat (Alm.), Kwee Seng Bie, Kwee Sien Kiok (sekarang melayani dalam Guru Sekolah Minggu dan Padan Suara Sion 1).

1965

Cikal Bakal Gereja Rehoboth Jemaat Ebenhaezer

Pada 22 Mei 1965 dirintis Kebaktian Anak-Anak (KAA) di Gg. Luna IV No. 54 oleh Kho Tek San (Pdt. Yohannes Hadisusanto) sebagai cikal bakal Gereja Rehoboth Jemaat Ebenhaezer. Setelah KAA di Gg. Luna ini berjalan baik, pengelolaannya diserahkan kepada Bapak Tan Tjiauw Tong (Alm) dengan dibantu para Guru Sekolah Minggu dari Dewi Sartika karena Kho Tek San mengikuti pendidikan Alkitab di Malang. Akhirnya KAA ini pun berkembang menjadi kebaktian Umum yang kebaktian perdananya diadakan pada tahun 1970.

Pengesahan Yayasan Gereja Rehoboth

Panitera Pengadilan Negeri Bandung mengesahkan Yayasan Gereja Rehoboth, saat itu ditulis dengan “Jajasan Geredja Rehoboth”, dalam Berita Negara RI tanggal 10 Agustus 1965 no. 64.

1967

Kembalinya Pdt. Latuparisa

Pada tahun 1967, Pdt. Latuparisa sempat kembali ke Bandung seorang diri karena istrinya sudah meninggal pada tahun 1950-an dan ia mengunjungi beberapa jemaat rintisannya, antara lain: Kel. Yahya Kiantono, Kel. Tan Tjiauw Tong, dan Lily Chio.

1968

Mulainya Doa Pagi

Tahun 1968, para pengerja dan anggota jemaat Rehoboth Jl. Dewi Sartika mulai rajin berkumpul setiap pagi untuk berdoa syafaat bersama. Mereka berdoa setiap pagi dari hari Senin sampai dengan Sabtu mulai pukul 05.00 – 06.00. Akhirnya gereja meresmikan doa pagi ini menjadi Departemen Doa Pagi pada tanggal 1 April 1968.

1969

Dibentuk KRGR

Dibentuk Kebaktian Remaja Gereja Rehoboth (KRGR) pada 27 Februari 1969. Ide pembentukan KRGR ini muncul pada waktu dibentuknya koor remaja untuk mengisi acara suatu KKR. Para pendirinya adalah Kho Tek San, Swie Hong, Sun Tek dan Tjoei Tjie. Selain melayani di dalam gereja, melalui Liem Han Siong (Pdt. Dr. Johannes Runkat) dan adiknya Liem Han Tjeng (Pdt. Dr. Jakobus Runkat) KRGR pun meningkatkan aktivitasnya dengan melayani di Panti Asuhan, Rumah Sakit Kebonjati, serta rumah-rumah anggota jemaat Gereja Rehoboth.

Pemugaran Gereja

Pada bulan April terjadi pemugaran gedung Gereja Rehoboth yang pertama kali. Pendanaan pemugaran ini, sama halnya ketika pembelian gedung gereja, yaitu secara bahu membahu dari jemaat-jemaat Gereja Rehoboth. Jemaat tidak hanya terlibat dalam pendanaan saja tetapi juga dalam menyumbangkan tenaga mereka. Ibu-ibu rumah tangga setiap hari datang ke gereja untuk mencuci genteng-genteng bekas sumbangan yang akan menjadi atap Gereja Rehoboth. Sedangkan para pemudanya terlibat dalam proyek pemugaran dengan mengangkut batu kali atau batu bata. Sementara gedung gereja mengalami pemugaran, atas kemurahan hati dan kerja sama dari Pdt. Jahja N. Obadja (Alm.), Jemaat Gereja Rehoboth diperbolehkan untuk memakai gedung Gereja Utusan Pentakosta di Jl. Kalipah Apo sampai pemugaran itu selesai.

1970

Peresmian Gereja Rehoboth

Pembangunan gedung gereja selesai pada tahun 1970 dan setelah siap dipakai maka pada tanggal 27 Juli 1970 terjadi pengguntingan pita dan penyerahan kunci gedung gereja oleh ketua pembangunan yaitu Bapak Yahya Kiantono kepada Ibu Petrus Kiantono, sebagai tanda peresmian pemakaian gedung baru. Acara peresmian ini dilanjutkan dengan kebaktian syukuran yang dilayani oleh hamba-hamba Tuhan dari berbagai gereja di kota Bandung.

1972

Kebaktian Pertama GRJI

Pada 1972 dimulailah Kebaktian Umum yang dipimpin oleh Oey Lie Hoa sebagai Gembala Sidang di Gereja Rehoboth Jemaat Immanuel.

1975

Dibukanya Gereja Rehoboth Jemaat Magelang

Ho Soe Sin (Pdt. Timotius Sindatura) memiliki kerinduan untuk melihat perkembangan Gereja Rehoboth bukan hanya terjadi di daerah Bandung saja. Oleh karena itu, ia serta keluarganya memutuskan untuk pindah dan memulai pelayanan di Magelang. Di sana, ia membuka Gereja Rehoboth Jemaat Magelang, Jawa Tengah pada 11 Mei 1975 untuk anak-anak Sekolah Minggu, sedangkan kebaktian umumnya baru dimulai pada tanggal 6 September 1975.